Morowali Utara Bakal Terima Award Disclaimer ke-3

banner 468x60

Sumber Foto: web.morowaliutarakab.go.id

MOROWALI UTARA – Kab. Morowali Utara merupakan daerah pemekaran baru dari kabupaten pemekaran Morowali yang berada di provinsi Sulawesi Tengah. Dimana ibu kotanya Kolonodale terletak diteluk Tomori bersebelahan dengan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Kabupaten Luwuk Banggai Provinsi Sulawesi tengah.

Melongok Kabupaten Morowali Utara yang berada ditengah Sulawesi ini, ternyata sangat jauh tertinggal dibanding daerah terdekatnya di Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara. Entah mengapa pembangunan yang sangat terlambat ini, tak ubahnya daerah terpencil.

Miris dan menyedihkan ketika awak media Tabloid JEJaK bersama korespondennya mengunjungi daerah Kabupaten Morowali Utara yang kini semakin pilu dijejali status berpredikat disclamer sebanyak 2 kali, nampaknya bakal menerima award disclamer ketiga.

Beberapa sumber di Kab. Morowali Utara mengeluhkan kondisi yang begitu buruk terus terjadi dikabupatennya. Dimana perencanaan yang tidak teratur secara sistematis, hingga ke penyiapan aparatur yang sarat dipengaruhi kepentingan politik, ikut mendandani pemerintahannya.

Ketika kondisi yang diprihatinkan masyarakat disana ingin dikonfirmasi kepada pejabat terkait baik Sekertaris daerahnya Yalbert Tulaka dan Bupatinya Tumimomor, berulang kali dihubungi baik kerumah maupun via hand phone, tak juga dilayani. Entah takut sorotan public atau entah hal lain, hanya kedua pejabat tersebut yang tahu.

Menohok kepedalaman Morowali Utara, malah semakin memprihatinkan. Dimana keluhan masyarakat didaerah ini, merasa telah terjadi perbuatan pemiskinan atas kondisi ekonomi mereka oleh pihak tertentu. Namun pemerintah daerah diam seperti tak mau peduli. Sementara, pihak dewanpun hampir memiliki sikap yang sama.

Contohnya, banyak tanah-tanah mereka diserobot, tanaman dirusak, termasuk makam leluhur dan rumah penduduk baik oleh pihak BPJN 14 dan kontraktor maupun pihak UIP sebagai pelaksanan proyek pembangunan jaringan dan pembangkit listrik Negara, yang terus seenak perut terus memperluas keperkasaannya.

Sudah begitu, tak kalah gilanya, pihak BUMN dan swasta perkebunan sawit melakukan hal yang sama menyerobot dan merusak tanah adat, pekuburan dan tanaman perkebunan rakyat MORI Tepoaso. Mereka telah ditipu dan diberdayai dengan janji-janji palsu.

Contoh lain yang mau disoroti dari sekian banyak kasus yang melanda masyarakat Mori Tepoaso adalah salah satunya pengerjaan jalan masuk desa Peonea dari pertigaan jalan utama Tomata Betheleme yang menelan anggaran sebesar 1 miliar lebih, hanya dikerjakan sepertiga dari seluruh ruas jalan menuju desa Peonea. Sehingga seperti jalan kudisan tak berujung.

Jalan yang nampak kudisan ini, pengerjaannya diduga tidak sesuai bestek projek pembangunan jalan. Bila dibanding jalan-jalan lorong dipedesaan di Minahasa Sulawesi Utara, sangat dibawah standar. Padahal jalan desa di Minahasa dikerjakan orang yang terbilang tidak berpendidikan. Sementara jalan ke desa Peonea merupakan jalan kabupaten yang dikerjakan pihak ketiga berstandar jalan nasional.

Lantas apanya yang tidak beres dari kualitas perencanaan yang pengerjaan separuh jalan ke desa, serta kualitas jalan dibawah standar tersebut ?. Ini pula yang menjadi keprihatinan para orang terpelajar dari masyarakat desa Peonea. Harapan mereka, semoga kualitas jalan ini dapat diperiksa oleh aparat hukum terkait. *** Perw. Tabloidjejak.com

Tags:
banner 468x60
author

Author: 

Related Posts