KPK: Aliran Transaksi Uang e-KTP ke Novanto Berlapis-lapis

Berita Utama, Ekobis 0
banner 468x60

Sumber Foto: Ari Saputra/detikcom

JAKARTA – KPK menyebut aliran transaksi duit terkait proyek e-KTP yang mengarah ke Setya Novanto sengaja dibikin rumit. Menurut KPK, aliran duit yang berlapis-lapis diduga agar tidak mudah diungkap.

Dalam 2 kali persidangan yaitu pada 11 Januari 2018 dan 15 Januari 2018, jaksa KPK menghadirkan saksi dari perusahaan penukaran uang atau money changer. Dari kesaksian mereka, terungkap adanya skema barter dolar yang dilakukan keponakan Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

Skema barter dolar dilakukan untuk memindahkan uang dari luar negeri ke Indonesia tanpa melalui transfer bank. Skema itu dibeberkan jaksa KPK dalam persidangan untuk menunjukkan seberapa rumit aliran duit tersebut.

Jaksa KPK juga menyebutkan uang yang dibawa Irvanto itu berasal dari PT Biomorf Mauritius, perusahaan milik Johannes Marliem. Cara barter dolar dilakukan Irvanto dengan cara mentransfer duitnya di Singapura ke beberapa rekening Singapura yang diberikan oleh perusahaan penukaran uang.

Selanjutnya, Irvanto mengambil uang dalam bentuk cash dari stok milik perusahaan penukaran uang itu. Dengan begitu, transaksi yang dia lakukan dengan menggunakan rekening bank luar negeri itu tidak dapat dibaca oleh otoritas di dalam negeri.

“Ya, kita sudah temukan bukti-bukti bagaimana dugaan aliran dana dibuat berlapis-lapis sehingga tidak mudah diungkap jika tidak dilakukan investigasi mendalam dan kerja sama antar institusi dan lintas negara,” ucap Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada detikcom, Selasa (16/1/2018).

Jaksa KPK memang sengaja menghadirkan saksi-saksi yang berkaitan dengan hal itu pada sidang-sidang awal. Menurut Febri, hal itu adalah strategi KPK untuk langsung membuktikan soal penerimaan duit yang disangkakan pada Novanto.

“Ya ini bagian dari strategi KPK membuktikan dugaan SN (Setya Novanto) diperkaya jutaan USD terkait proyek e-KTP. Sebagai salah satu unsur di Pasal 2 atau Pasal 3 UU Tipikor, yaitu memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi,” tutur Febri.

 

Melihat Lebih Detail Skema Barter Dolar ala Ponakan Novanto

Jakarta – Jaksa KPK mengulik tentang upaya keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, membawa uang USD 2,6 juta dari luar negeri ke Indonesia tanpa transfer bank. Cara Irvanto yaitu dengan bantuan perusahaan money changer.

Peristiwa yang terjadi pada tahun 2012 itu digali jaksa dari keterangan Riswan dan Juli Hira. Keduanya merupakan pengusaha money changer.

Awalnya Riswan mengaku didatangi Irvanto di kantornya di Jakarta. Irvanto disebut Riswan mengaku ingin melakukan barter dolar tetapi Irvanto menyebut dolar itu ada di luar negeri.

Untuk menindaklanjutinya, Riswan menghubungi koleganya, Juli Hira, Komisaris PT Berkah Langgeng yang juga merupakan perusahaan money changer. Juli kemudian meminta rekannya sesama pengusaha money changer di Singapura untuk mencari klien perusahaan yang ingin membeli dolar Amerika Serikat (AS).

“Iwan (Riswan) bilang saya mau transfer, ada klien mau jual dolar, saya kasih rekening. Kalau masuk saya kasih dia cash,” ujar Juli ketika bersaksi dalam sidang terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).

Setelah mendapatkan nomor rekening klien perusahaan, Juli memberikannya ke Riswan. Nomor-nomor rekening itu lalu diberikan Riswan ke Irvanto dan diteruskan ke PT Biomorf Mauritius, perusahaan milik Johannes Marliem.

“Pertama 1 juta dolar AS yang ingin ditarik Iwan, saudara lakukan transaksi berusaha menjual dolar tadi satu juta itu ke beberapa klien Anda perorangan dan personal dan perusahaan betul begitu?” tanya jaksa.

“Iya betul,” jawab Yuli.

Selanjutnya, jaksa menampilkan skema aliran uang Biomorf Mauritius yang diterima beberapa perusahaan rekan Juli di Singapura. Perusahaan tersebut yakni Kohler Asia Pasific sebesar USD 200.000, Cosmic Enterprise sebesar USD 200.000, Sunshine Development sebesar USD 500.000, Golden Victory sebesar USD 186.470, Pasific Oleo USD 183.470, Wua Kong Trading sebesar 250.000, Omni Patent sebesar USD 240.200 dan Juli Hira USD 200.000.

“Ada lagi dari perusahaan Golden Victory atas permintaan Lulu?” tanya jaksa.

“Iya betul,” jawab Juli.

Usai menerima uang tersebut, Juli mencairkan uang miliknya untuk diberikan kepada Riswan. Selanjutnya uang tersebut langsung diberikan Irvanto.

Atas kerja sama tersebut, Riswan menerima keuntungan 100 poin atau Rp 100 per dolar. Sedangkan Juli menerima keuntungan 40 poin atau Rp 40 per dolar.

“Kemudian saudara serahkan tunai ke Iwan setelah menerima transfer?” tanya jaksa.

“Iya,” tutur Juli.

Dalam surat dakwaan Novanto, PT Biomorf Mauritius dan PT Biomorf Lone Indonesia milik Johannes itu merupakan salah satu perusahaan yang disebut jaksa memberikan uang ke Novanto. Untuk menyamarkan transaksi, Johannes mengirim invoice ke Anang Sugiana Sudihardjo (Direktur Utama PT Quadra Solution/salah satu perusahaan di Konsorsium PNRI pemenang proyek e-KTP) sebagai dasar untuk pengiriman uang, sehingga seolah-olah pengiriman uang tersebut merupakan pembayaran PT Quadra Solution kepada Biomorf Mauritius atau PT Biomorf Lone Indonesia.

 

Tanggapi soal Ponakannya Barter Dolar, Novanto: Saya Tak Tahu

Jakarta – Setya Novanto mengaku tidak tahu tentang transaksi keuangan yang dilakukan keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, yang melakukan barter dolar. Transaksi itu dibeberkan jaksa KPK dalam sidang.

“Saya tidak mengetahui transaksi tersebut,” kata Novanto ketika diminta hakim menanggapi kesaksian beberapa orang terkait hal itu dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).

Tanggapan Novanto itu ditujukan atas kesaksian 3 orang yaitu Riswan, Juli Hira, dan Nunuy Kurniasih. Ketiganya sebelumnya dicecar hakim soal transaksi barter dolar Irvanto.

“Kami juga tak tahu transaksi keuangan ini,” ujar Novanto lagi.

Sebelumnya, terungkap bila dolar yang ditransfer Irvanto berasal dari perusahaan milik Johannes Marliem yaitu PT Biomorf Mauritius. Fakta itu diungkap Juli Hira.

“Anda diperiksa KPK bilang dari Biomorf, benar?” tanya hakim pada Juli.

“Saya tahu dari pas di KPK kalau uang dari Biomorf,” jawab Juli.

 

Jaksa Beberkan Skema Aliran Duit Biomorf ke Ponakan Novanto

Jakarta – Uang dolar yang dibarter keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, berasal dari perusahaan milik Johannes Marliem. Jaksa KPK membeberkan skemanya.

Irvanto melakukan barter uang itu melalui money changer. Uang itu ditransfer ke beberapa rekening sebelum akhirnya diambil Irvanto.

Dalam persidangan terdakwa Novanto, jaksa menampilkan gambar skema transfer tersebut. Tampak di ujung skema ada nama PT Biomorf Mauritius milik Johannes yang mengirim uang ke 9 rekening.

“Ini ada rekening lain?” tanya jaksa KPK pada seorang saksi bernama Nunuy Kurniasih dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018).

“Iya itu punya Pak Iwan (Riswan/karyawan money changer yang bertemu Irvanto untuk barter dolar),” jawab Nunuy.

Nunuy merupakan karyawan PT Berkah Langgeng. Komisaris perusahaan itu, Juli Hira, merupakan kolega Riswan yang dimintai tolong untuk menerima transferan dari Irvanto.

“Anda bisa lihat transferan ini benar?” tanya jaksa.

“Iya,” jawab Nunuy.

“Apakah ini benar?” tanya jaksa sembari menunjukkan gambar.

“Saya cuma transfer saja pak,” ujar Nunuy.

“Ada juga Pasific itu siapa namanya?” tanya jaksa.

“Listin,” jawab Nunuy.

 

Dolar Ditransfer Ponakan Novanto dari Perusahaan Johannes Marliem

Jakarta – Akhirnya terungkap bila dolar yang ditransfer keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, berasal dari perusahaan milik Johannes Marliem.

Fakta itu diungkap komisaris PT Berkah Langgeng, Juli Hira, dalam persidangan terdakwa Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta. Juli awalnya diminta bantuan oleh Riswan, karyawan money changer yang didatangi Irvanto untuk barter dolar.

“Anda diperiksa KPK bilang dari Biomorf, benar?” tanya hakim pada Juli dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).

“Saya tahu dari pas di KPK kalau uang dari Biomorf,” jawab Juli.

Awalnya, Juli mengaku dikabari Riswan bila ada orang yang ingin transfer uang dari luar negeri. Namun, Riswan tak menyebutkan nama Irvanto.

“Iwan (nama panggilan Juli untuk Riswan) transfer saya ada klien mau jual dolar Singapura saya kasih rekening. Kalau masuk saya kasih dia cash,” ujar Juli.

Hakim kembali menyampaikan keheranannya tentang barter dolar itu. Dia menanyakan alasan Juli tak menaruh curiga atas transaksi itu.

“Kok dolar dari sana ke sini tukar dolar juga. Kenapa nggak pikiran, ada apa ini?” tanya hakim.

“Sudah biasa kalau di Singapura,” jawab Juli.

Selain itu, Juli mengaku memberikan beberapa nomor rekening kepada Riswan. Namun Juli menyebutkan nama rekening yang diberikan kepada Riswan.

“Iya ada jual beli ke saya karena murah 40 poin,” kata Juli.

Dalam surat dakwaan Novanto, pemberian fee padanya diambil dananya dari bagian pembayaran PT Quadra Solution kepada Johannes Marliem melalui perusahaan Biomorf Mauritius dan PT Biomorf Lone Indonesia. Duit itu ditransfer ke rekening Made Oka Masagung di Singapura yang diteruskan ke Novanto.

“Untuk itu Johannes Marliem akan mengirimkan beberapa invoice kepada Anang Sugiana Sudihardjo sebagai dasar untuk pengiriman uang, sehingga seolah-olah pengiriman uang tersebut merupakan pembayaran PT Quadra Solution kepada Biomorf Mauritius atau PT Biomorf Lone Indonesia,” sebut jaksa KPK dalam surat dakwaan itu. ***

Tags:
banner 468x60
author

Author: 

Related Posts