Galian C Tampa Izin Harus Ditangkap

Berita Utama, Ekobis 0
banner 468x60

TABLOIDJEJAK.COM – Minahasa Selatan. Terkait keberadaan tambang batu galian C, yang tersebar di Minahasa Selatan khususnya di kecamatan Tenga, desa Tawaang Timur dan Radey, dipandang tak memandang muka pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Utara.

Menurut Dirwaster Lembaga KPK prov. Sulawesi Utara, Bertje Rotikan kepada tabloidjejak.com  menyatakan keberadaan beberapa tambang batu galian C di Minahasa Selatan sudah sangat meresahkan dan merugikan keuangan Negara.

Pasalnya, kegiatan usaha tambang batu galian C tersebut, berdasarkan hasil investigasi timnya baik di Tawaang timur dan desa Radey, ternyata tidak memiliki izin usaha dari pemerintah. Mereka sudah benar-benar tidak memandang muka pemerintah Indonesia khususnya daerah. Apalagi, diduga pengusaha yang memback up kegiatan illegal tersebut berasal dari singapura.

Kita betul-betul dipencundangi pengusaha asing seenak perut. Sebab itu, kita perlu melakukan evaluasi atas berbagai kebijakan yang menyangkut pintu masuk pariwisata yang dicanangkan oleh Gubernur Sulut. “Kalau bukan dilakukan seleksi masuk, mungkin penutupan pintu parawisata Sulut merupakan jalan keluar agar tidak terjadi penyerobotan usaha illegal oleh turis asing,” tandasnya.

Menurut sumber tabloidjejak.com, tambang batu illegal di desa Radey yang tepat berada didepan mata Polsek Tenga, telah berlangsung selama kira-kira 5 tahun. Namun walau keberadaannya didepan mata Polsek Tenga, nampaknya tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi untuk mencegah usaha illegal tersebut.

Menurut perhitungan Lembaga KPK Prov. Sulut, diperkirakan Negara telah dirugikan sekitar miliaran rupiah dalam kurun waktu 5 tahun tersebut. Sehingga sepatutnya mereka dikenakan dengan undang-undang anti korupsi.

Menurut sumber yang tak mau menyebutkan namanya, menerangkan bahwa khusus di Radey usaha tambang batu dimiliki dan dikuasai oleh beberapa orang. Ada yang sudah dibeli adan yang disewa. Material batunya, ada yang diambil dari gunung yang dihancurkan, juga ada yang diambil dari kuala (sungai)  Radey.

“Khusus yang diambil dari sungai, itu milik dari SKJ yang materialnya berupa kerikil dan pasir sungai yang dicampur dengan material batu giling asal Tateli untuk LPA. Sementara hasil bongkaran gunung, itu dipakai untuk penimbunan jalan boulevard Amurang dan sebelumnya juga untuk timbunan PT. Global,” terang sumber Tablidjejak.com.

Sumber tersebut juga menerangkan, bahwa kualitas batu bongkaran berwarna putih. Bahkan nampak sekali merupakan batu kapur atau batu yang memiliki kadar kapur dalam jumlah tertentu. Terkait apakah pernah dilakukan analisa lab, menurutnya belum mendengar kalau pernah dilakukan analisa lab dari pihak manapun.

Sementera terkait usaha tambang ilegal di desa Tawaang timur dan desa Radey, menurut kepala Dinas satu atap Prov. Sulut melalui jubirnya Ir. Roy Terok, bila ada usaha illegal harus ditangkap oleh pihak kepolisian, karena itu berdasarkan tugas dan kewenangan mereka. Tidak boleh dibiarkan, karena tidak dibenarkan adanya usaha tambang galian C maupun tambang lainnya tanpa izin.

Apalagi usaha pertambangan memiliki potensi merusak lingkungan dan bahkan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan serta merusak kesehatan masyarakat,” jelas Roy. Itulah sebabnya, terkait usaha tambang harus melalui mekanisme analisa dampak lingkungan.**V/D.

Tags:
banner 468x60
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts